Sejarah Singkat Kerajaan Demak
Sejarah Singkat Kerajaan Demak - Kerajaan Demak adalah kerajaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa yang terletak di daerah Demak, Jawa Tengah. Kerajaan Demak mulai menunjukkan eksistensinya sebagai kerajaan yang berdaulat setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1478. Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah singkat Kerajaan Demak.
Kehidupan Politik Kerajaan Demak
Kerajaan Demak ini merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak ini berdiri setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Demak yaitu :
1.Raden Patah
Didalam kitab Babad Tanah Jawi, dikatakan bahwa Raden Patah ialah keturunan raja terakhir kerajaan Majapahit, yaitu Raja Brawijaya V dan seorang putri China. Setelah dewasa, Raden patah diangkat oleh Kerajaan Majapahit menjadi raja bawahan di Demak, dengan gelar yang disandarnya yaitu Sultan Alam Akbar al-fatah. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, kemudian Raden Patah mendirikan kerajaan Demak.
Sejak tahun 1511,Malaka telah berada dibawah kekuasaan Portugis.oleh karena itu Raden Patah memerintahkan serangan terhadap Malaka pada tahun 1523, untuk merebut Malak dari tangan Portugis.selanjutnya Demak mengerahkan armadanya yang dipimpin oleh dipati Unus, namun gagal dalam serangan tersebut. Meskipun gagal, namun Raden Patah dijuluki Pangeran sabrang Lor(pangeran yang menyeberang ke utara) karena keberaniaannya menyerang Portugis.
2. Adipati Unus (Pati Unus)
Setelah Raden Patah wafat, pemerintahan Kerajaa Demak beralih ke tangan Pati Unus. Dipati Unus hanya memrintah selam 3 tahun. Setelah Dipati unus wafat banyak terjadi kemelut politik, disebabkan oleh persaingan antara kedua adiknya , yang bernama Pangeran Sekar Sedo Lepen dan pangeran Trengggono. Di tengah persaingan Pangeran Sekar Sedo Lapen dibunuh oleh sunan Prawoto, yakni putra pangeran Trengggono.
3. Sultan Trenggono (Sultan Trenggana)
Dengan tewasnya Pangeran Sekar Seda Lepen membuat Pangeran Trenggono mudah untuk naik tahta kerajaan Demak. Dibawah kekuasaan Sultan Ttrenggono lah Demak mengalami masa kejayaan. Sultan trenggono menjadikan Demak sebagai pusat kekuasaan Jawa, dan salahb satu pusat penyebaran penyebaran agama Islam. Langkah yang dilakukan Sultan Trenggono untuk mewujudkan cita-citanya tersebut adalah dengan cara menaklukkan daerah utara pantai utara Jawa, dan juga membantu penyebaran agama Islam dan pendirian Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.
Wilayah pemerintahan Trengggono ini meliputi sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Setelah Trengggono wafat, terjadilah lagi persaingan politik antara keluarga Sekar Sedo Lepen dan keluarga Sultan Trenggono. Ditengah kemelut politik yang berlarut-larut, Jaka Tingkir lah yang mengatasi keadaan tersebut. Jaka Tingkir telah berhasil meredam pemberontakan Ario Penangsang. Putra pangeran Sekar Sedo Lepen itu tewas karena dibunuh panglima perang Pajang yang bernama Sutawijaya. Peristiwa tersebutlah menandai berakhirnya kerajaan Demak.
B) Kehidupan Sosial Kerajaan Demak
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Demak telah diatur sesuai dengan ajaran agama Islam. Namun demikian, masih ada juga masyarakat Demak yang masih menjalankan tradisi lama. Yang akhirnya, munculnya kehidupan social masyarakatnya itu perpaduan antara agama Islam dengan tradisi Hindu Buddha.
C) Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak
Kehidupan perekonomian Kerajaan Demak yaitu pada sektor perdagangan dan pertanian. Kenapa pada sektor perdagangan, karena letak kerajaan Demak yang strategis, yaitu yang berada pada jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antara penghasil rempah-rempah di wilyah Indonesia bagian timur dan Malaka sebagai pasar di Indonesia bagian barat.
D) Kebudayaan Kerajaan Demak
Salah satu peninggalan kebudayaan Kerajaan demak adalah Masjid Agung Demak yang terkenal karena salah satu tiangnya yang terbuat dari pecahan kayu(total). Tiang tersebut diberi nama saka total. Sunan Kalijagalah yang menjadi pimpinan dalam pembangunan masjid Demak ini. Di pendopo masjid Demak ini sunan kalijaga meletakkkan dasar-dasar perayaan sekaten. Tujuannya ialah untuk menyebarkan tradisi islam, yang sampai saat ini masih berlangsung di Jogjakarta dan Surakarta.